3-06-2024 | Dibaca : 244 pembaca

Terapi Pada Pasien Stroke

Terapi Pada Pasien Stroke

Narasumber: dr. Dilia Ratna Dewi, M.Ked.Klin., Sp.K.F.R.

(Dokter Spesialis Kedokteran Fisik & Rehabilitasi)

 

Terapi stroke adalah langkah utama yang perlu dilakukan bagi para penderitanya. Upaya ini dilakukan untuk memulihkan kondisi tubuh setelah mengalami gejala stroke. Kemungkinan terbaiknya, penderita bisa pulih seperti sedia kala setelah melakukan terapi, sehingga memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Lantas, apa saja terapi yang bisa mengembalikan hilangnya fungsi tubuh akibat kerusakan otak saat stroke? Simak penjelasan dr. Dilia Ratna Dewi, M.Ked.Klin., Sp.K.F.R. selengkapnya di bawah ini.

Halo Dokter Dilia, apa saja sih Dok jenis terapi yang dapat dilakukan untuk pasien stroke di Poli Rehabilitasi Medik RSUM?

Terapi rehabilitasi pada pasien stroke dapat dimulai saat pasien dirawat inap di rumah sakit. Pasien dan keluarga akan diajarkan bagaimana memposisikan pasien dengan benar, melatih luas gerak sendi, latihan peregangan, serta kapan pasien mulai dimobilisasi. Setelah kondisi pasien stabil dan dipulangkan, maka selanjutnya pasien dapat melakukan kunjungan rawat jalan ke Klinik Rehabilitasi Medik.

Pasien akan dilakukan penilaian terhadap kelemahan dan gangguan yang terjadi akibat stroke. Terapi latihan merupakan hal yang sangat penting untuk penanganan gangguan fungsi akibat stroke. Latihan yang sering diberikan antara lain latihan penguatan, latihan koordinasi, stimulasi sensorik, latihan keseimbangan, latihan perawatan diri, dan lain sebagainya sesuai dengan gangguan fungsi yang dialami oleh pasien stroke. Beberapa modalitas yang juga dapat diberikan misalnya stimulasi elektrik untuk keluhan nyeri dan kelemahan, radiasi infrared untuk membantu mengurangi spasme otot, serta terapi ultrasound untuk keluhan keterbatasan luas gerak sendi, tentunya dengan pertimbangan indikasi dan kontraindikasi. Penggunaan alat bantu juga dapat direkomendasikan sesuai kebutuhan pasien, misalnya kursi roda, walker, tongkat, maupun ankle foot orthosis.

Bagaimana cara memilih terapi yang sesuai untuk pasien stroke? Hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam pemilihan terapi?

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan terapi stroke, antara lain fase dari stroke, tingkat keparahan stroke, kemampuan fungsional, serta toleransi terhadap terapi latihan. Terapi diberikan sesuai dengan hasil asesmen atau penilaian gangguan yang terjadi akibat stroke. Pasien dengan tingkat keparahan berat dengan kemampuan fungsional yang buruk, maka program rehabilitasi difokuskan pada edukasi terhadap keluarga (caregiver) tentang perawatan pasien, program rehabilitasi paliatif, penyediaan alat bantu atau aksesibilitas yang mendukung agar tetap tercapai hidup yang berkualitas.

Lalu Dok, berapa lama terapi stroke dilakukan?

Terapi Rehabilitasi Stroke dibedakan dalam 3 fase, yaitu fase akut, fase subakut, dan fase kronis, di mana pada masing-masing fase mempunyai tujuan dan tatalaksana rehabilitasi yang berbeda. Fase akut berlangsung sejak hari pertama hingga 2 minggu pasca stroke, tergantung jenis dan keparahan stroke yang terjadi. Fase subakut umumnya berlangsung mulai dari 2 minggu sampai dengan 6 bulan pasca stroke. Fase kronik umumnya terjadi setelah 6 bulan pasca stroke. Fase subakut merupakan periode emas yang sangat penting untuk terapi rehabilitasi medik pada pasien stroke sehingga pemulihan fungsional diharapkan optimal pada fase ini.

Sebenarnya apa sih Dok tujuan terapi bagi pasien stroke?

  1. Pada fase akut, tujuan terapi adalah untuk meminimalkan gejala sisa dengan membantu perbaikan perfusi otak, mencegah komplikasi yang terjadi akibat stroke maupun tirah baring, serta tercapainya pemulihan fungsional yang optimal
  2. Pada fase subakut, tujuan terapi adalah untuk mengoptimalkan pemulihan kemampuan fungsional sesuai dengan kondisi dan tingkat keparahan stroke sehingga mampu melakukan aktivitas sehari-hari dan perannya secara mandiri.
  3. Pada fase kronik, fokus utamanya adalah untuk menilai apakah ada fungsi yang masih bisa dimaksimalkan ditambah persiapan kembali ke lingkungan dan masyarakat

Apakah seseorang yang lumpuh akibat stroke memungkinkan bisa bergerak lagi setelah melakukan terapi?

Proses pemulihan gangguan fungsi tergantung pada kecepatan waktu penanganan saat mengalami serangan stroke, letak dan luas lesi (cedera) otak yang menjadi penyebabnya, penyakit atau kondisi penyulit dan komplikasi yang terjadi, sarana dan tenaga professional rehabilitasi yang tersedia, motivasi penderita, dan dukungan keluarga. Selain itu, usia juga berpengaruh terhadap kecepatan proses penyembuhan secara umum, pada pasien dengan usia lebih muda maka penyembuhan cenderung lebih baik oleh karena plastisitas saraf lebih baik. Semakin cepat penanganganan stroke, penyulit atau komplikasi yang minimal, maka keberhasilan terapi rehabilitasi akan semakin besar dan memungkinkan pasien dapat bergerak dan beraktivitas kembali seperti semula.

Apa saja hal yang perlu diperhatikan pasien untuk mendukung keberhasilan terapi pada pasien stroke?

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendukung keberhasilan terapi pada pasien stroke yaitu pengendalian faktor risiko yang dapat dimodifikasi, antara lain pengendalian hipertensi, fibrilasi atrium, kolesterol, serta kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus. Penerapan gaya hidup sehat, seperti tidak merokok, tidak konsumsi alkohol, makan makanan gizi seimbang, menjaga berat badan ideal, serta istirahat yang cukup juga harus dilakukan. Motivasi dan semangat pasien untuk dapat pulih dan beraktivitas kembali juga sangat penting sehingga pasien dapat mengikuti program rehabilitasi yang dibuat. Selain itu diperlukan juga dukungan keluarga dan lingkungan di mana pasien tinggal dan bekerja.

Apakah benar seseorang yang mengalami serangan stroke pertama akan lebih mudah untuk penyembuhan dan pencegahan terjadinya kelumpuhan yang lebih parah? Bagaimana pendapat Dokter?

Terdapat penelitian yang membandingkan tingkat keparahan stroke pada pasien stroke berulang dengan stroke pertama kali. Pasien dengan stroke berulang memiliki angka kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan pasien dengan stroke pertama kali, namun pasien yang bertahan hidup akan memiliki waktu dan tingkat pemulihan yang sama dengan stroke pertama kali. Namun, jika kekambuhan terjadi secara kontralateral (sisi yang berlawanan) dengan stroke pertama, maka pemulihan fungsional akan lebih buruk.

Bagaimana pertolongan pertama untuk seseorang yang terkena serangan stroke agar tidak terjadi kelumpuhan atau gangguan bicara yang lebih parah?

Saat seseorang dicurigai terkena stroke, ada beberapa hal yang dapat dilakukan.

  1. Kenali gejala stroke secara cepat dengan mengidentifikasi adanya FAST. FAST merupakan singkatan dari Face (wajah), Arms (lengan), Speech (bicara), dan Time (waktu). Segera periksa apakah salah satu sisi wajah penderita tidak simetris, bisa dengan meminta penderita untuk tersenyum, lihat apakah salah satu tangan penderita turun saat percobaan mengangkat kedua tangan, periksa apakah penderita mengalami kesulitan berbicara atau mengucapkan kata-kata dengan jelas, dan ingat bahwa waktu sangat penting.
  2. Segera cari bantuan medis jika ada tanda-tanda stroke
  3. Catat waktu kapan gejala stroke pertama kali muncul karena pengobatan stroke iskemik yang melibatkan penggunaan rtPA (Recombinant Tissue Plasminogen Activator) hanya dapat diberikan dalam jendela waktu yang terbatas setelah munculnya gejala.
  4. Penting untuk memastikan bahwa penderita tetap tenang dan dalam posisi yang aman sambil menunggu bantuan medis darurat. Penderita dapat diposisiskan berbaring dengan bagian kepala sedikit diangkat agar penderita merasa lebih nyaman.
  5. Longgarkan pakaian ketat atau aksesori yang mungkin dikenakan agar penderita merasa nyaman dan dapat bernapas dengan baik.
  6. Hindari memberikan makanan atau minuman karena gejala stroke seringkali melibatkan gangguan menelan. Memberikan makanan atau minuman dapat meningkatkan risiko tersedak yang dapat mengakibatkan masalah pernapasan yang serius dan bahkan dapat memperburuk kondisi penderita.

Terakhir Dok, bagaimana pencegahan stroke?

Pencegahan stroke sangat penting untuk dilakukan, baik oleh orang sehat maupun kelompok risiko tinggi yang belum pernah terserang stroke. Upaya pencegahan stroke meliputi perbaikan gaya hidup dan pengendalian berbagai faktor risiko, antara lain:

  1. Pengaturan pola makan yang sehat, yaitu dengan mengkonsumsi makanan rendah lemak dan kolesterol, rendah natrium, dan menghindari atau setidaknya mengurangi makanan dan minuman yang mengandung gula.
  2. Pengendalian stress dengan cara senantiasa berpikir positif, bila ada pekerjaan yang cukup menyita waktu dan pikiran dapat diselesaikan satu demi satu, bersikap ramah, dan mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa
  3. Istirahat yang cukup dan tidur teratur 6-8 jam sehari
  4. Olahraga teratur, minimal 150 menit dalam seminggu
  5. Pengendalian berat badan
  6. Tidak merokok dan menghindari konsumsi alkohol
  7. Pemeriksaan kesehatan secara teratur, terutama untuk penyakit yang meningkatkan risiko stroke seperti penyakit jantung, hipertensi, dislipidemia, dan diabetes melitus.

Itulah beberapa jenis terapi stroke yang umum dilakukan oleh penderita stroke untuk mengembalikan fungsi tubuh. Meski tingkat kesembuhan bervariasi untuk setiap individu, namun kemungkinan untuk pulih umumnya lebih tinggi setelah menjalani terapi. Meskipun stroke merupakan penyakit yang tidak mudah disembuhkan, pencegahan melalui pemeriksaan rutin adalah langkah bijak untuk menjaga kesehatan Anda. Yuk, jika ada keluhan kesehatan segera kunjungi RSU Muhammadiyah Ponorogo dan konsultasikan keluhan kesehatan Anda kepada kami! (gie)

 

 

Sumber : Humas RSUMP